Bogor, Cimande || Gardatipikornews.com -- Larangan penjualan elpiji 3 kilogram atau biasa disebut gas melon secara eceran tidak boleh lansung beli di mobil.Masyarakat harus ke warung aja. menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Sebagian warga merasa keberatan dengan kebijakan tersebut karena dinilai menyulitkan. Namun, ada juga yang mendukung agar kosumen mendapatkan kepastian harga dan kualitas.
Kebijakan tersebut dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,pemerintah menetapkan pembelian elpiji 3 kilogram sepenuhnya hanya dilayani di pangkalan resmi Pertamina atau di mobil penyalur
Di Cimande, kebijakan tersebut menuai beragam komentar dari masyarakat. Sanhari(60), pemilik rumah kebutuhan satu gas Elpiji(gas melon) pokok,di Desa Cimande, Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor, mengatakan, dirinya keberatan dengan kebijakan tersebut. Selama ini cukup banyak warga yang mengandalkan ke warung untuk membeli elpiji 3 kilogram dengan harga 25rebu rupiah.
”Kami hanya mau beli satu aja gas 3kg.bukan mau minta.Menurut saya, masih wajar karena pedagang dan pembeli sama-sama diuntungkan. Warga di sekitar sini, kan, bisa membeli gas kapan saja dan lebih dekat, lgsung di mobil lumayan aga ringan biaya utuk masyarakat” kata Sanhari kepada Meia, Kamis (19/07/2025).
Selama ini, warungnya buka sejak pukul 06.00-22.00 WIB. penyalur di mobil pangkalan resmi biasanya bisa beli satu gas langsung d mobil..kenapa ini ga di kasih sama supirnya. padahal beroperasi hingga sore hari. Warga sekitar yang membutuhkan elpiji 3 kg. langsung sanhari beli ke warung walau pun harga 24rebu rupiah membeli di warung-warung eceran terdekat.
Harga jual dari warung eceran ke konsumen berkisar Rp 24.000-Rp 25.000 per tabung. Ia mencari mendapat keuntungan dari penjualan elpiji.
"Supir mobil penyalur gas elpiji dengan plat Nomer F 8576 CB.sambil mengluarkan bahasa tidak pantas untuk masyarakat.ga akan di kasih beli aja ke warung.mau beli gas d prsulit. Padahal dari warung di bayar saya juga bayar bukan minta.kan itu stok di mobil masih banyak.." ujar sanhari
Hal serupa diutarakan oleh maesaroh(35), warga lainnya. Ibu rumah tangga itu mengatakan, kebijakan supir penyalur tidak memikirkan rakyat kecil.Selama ini, ia mengandalkan warung eceran untuk membeli elpiji 3 kg karena jaraknya lumayan,hanya di sebelah rumahnya. Maesaroh hanya perlu beli satu gas elpiji di mobil berjalan kaki tak lebih dari satu menit.
”Kalau saya harus ke warung trus untuk beli gas, malah jatuhnya lebih mahal. Hidup udah susah karena harga bahan-bahan pokok naik. Sekarang makin susah lagi karena ada aturan ini,” ujarnya.???
(@H.jajuli kabiro bogor)