Jakarta || Gardatipikornews.com -- Di balik wajah-wajah penuh dedikasi para guru honorer, tersimpan cerita pilu yang jarang terdengar. Sudah berbulan-bulan mereka mengajar tanpa kepastian gaji. Sementara itu, program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang mereka nantikan justru kembali diundur, memupus harapan untuk mendapatkan pengakuan dan perbaikan nasib.
“Saya masih harus bayar kontrakan, listrik, dan kebutuhan anak sekolah. Tapi honor tak kunjung cair,” keluh Ibu Sari, guru honorer di sebuah SD negeri di Kabupaten Sukabumi. Ia mengaku terpaksa meminjam uang kepada keluarga untuk bertahan hidup.Rabu, 9/725.
PPG Diundur, Asa Tertahan : Program PPG menjadi harapan banyak guru honorer agar bisa diangkat menjadi ASN atau PPPK. Namun penundaan yang berulang membuat mereka frustrasi. “Katanya bulan lalu mulai, sekarang katanya nunggu info lagi. Kami bingung,” ungkap Bapak Dedi, guru honorer di Bandung.
Penundaan ini bukan hanya menghambat karier mereka, tapi juga berdampak pada psikologis. Banyak guru honorer merasa kehilangan motivasi dan tertekan oleh ketidakpastian.
Menurut Dr. Ratna Dewi, pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia, “Ketidakpastian ini bukan hanya persoalan pendapatan, tetapi juga memengaruhi kualitas pengajaran. Guru tak bisa fokus mendidik jika perut keluarga mereka pun kosong.”
Harapan Dari Pemerintah : Menanggapi keresahan ini, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek, Bapak Wahyu Prasetyo, mengatakan:
“Kami memahami kegelisahan guru honorer. Pemerintah berkomitmen mempercepat pencairan honor dan segera mengumumkan jadwal resmi PPG. Kami mohon kesabaran dan kerja sama dari seluruh guru, karena semua langkah ini demi memastikan kualitas dan keadilan prosesnya.”
Pemerintah daerah juga diminta lebih proaktif menyalurkan honor tepat waktu dan melaporkan kendala ke pusat, agar solusi dapat ditemukan lebih cepat.
Di ruang kelas, para guru honorer tetap berdiri di depan papan tulis, meski batin mereka sendiri tengah menjerit. Dedikasi besar itu kini menunggu balasan nyata: penghargaan, kepastian, dan keadilan.
Jumlah Guru Honorer Terdampak : Berdasarkan data Kemendikbudristek (per Mei 2025):
Jumlah total guru honorer di Indonesia tercatat sekitar 900.000 orang.
Dari jumlah tersebut, diperkirakan lebih dari 350.000 guru honorer terdampak langsung oleh keterlambatan pencairan honor di berbagai daerah.
Selain itu, sekitar 120.000 guru honorer yang terdaftar sebagai peserta PPG 2025 masih menunggu kepastian jadwal pelaksanaan yang kembali tertunda.
Menurut catatan Forum Honorer Nusantara, keterlambatan honor paling banyak terjadi di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan beberapa kabupaten di Sumatra. Dampaknya dirasakan langsung oleh guru di SD, SMP, hingga SMA.
“Setiap bulan tertunda, artinya ribuan keluarga guru honorer semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, biaya sekolah anak, hingga biaya transportasi ke tempat kerja,” ujar Dewi Santoso, Ketua Forum Honorer Nusantara.
Angka ini menunjukkan, bahwa persoalan guru honorer bukan hanya menyangkut segelintir orang, tetapi sudah menjadi persoalan nasional yang menyentuh hampir hampir sejuta keluarga di seluruh Indonesia.
( @Red@ksi.gtn.com**