"Namun pada saat obat malaria atau yang sering dikenal dengan sebutan (obat biru sudah) yang didistribusikan, oleh Dinas Kesehatan telah melakukan evaluasi kepada fasilitas Kesehatan(Faskes) yang dikelola oleh TNI dan Polri.
“Kita tahu bahwa, satuan tugas yang ada di kabupaten Mimika, perlu juga menjadi atensi Pemerintah Daerah, dikarena pemerintah pusat melalui Kementrian Kesehatan (Kemenkes) bekerjasama dengan TNI-Polri,” pungkasnya
Lanjutnya, untuk teknis kondisi malaria di Mimika, sebenarnya menjadi latar belakang. yaitu ketersediaan obat malaria yang dihutung berdasarkan jumlah kasus. Jumlah kasus pertahun proporsi atau persentasi malaria di Mimika, adalah 36-40 persen sehingga, perencanaan berdasarkan variabel perhitungan Dinas Kesehatan.
“paling penting adalah ketepatan diagnose, Karena jika kalau salah maka perencanaan juga akan meleset. Selain diagnosa, hal lain menjadi perhatian adalah ketepatan pemberian obat malaria, berdasarkan jenis parasit. Contoh, pemberian obat malaria kepada pasien Tropika jumlahnya berbeda dibandingkan dengan pasien Tersiana,” paparnya
Hal ini juga penting dalam penanganan malaria adalah, melakukan edukasi kepatuhan oleh warga di kabupaten Mimika, dalam pencegahan terjadinya malaria. melalui Dinas Kesehatan,akan terus melakukan upaya pengendalian malaria, seperti menjaga lingkungan serta menghindari gigitan nyamuk.
“Jadi 70 persen kasus malaria di Mimika dipengaruhi oleh pasien yang tidak patuh. Ini salah satu faktor stok obat malaria cepat habis. Kasus ini dihitung berdasarkan hasil penelitian kurang dari 63 hari. Periode 63 hari ini kasus malaria terjadi lagi, lantaran pasien tidak patuh minum obat,” tutupnya
Pewarta : @Stevi .Kaperwil Papua
Editor : M.Rizky
Timika Papua | Gardatipikornews.com - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra menyampaikan, stok penyedian obat malaria yang dikelola oleh dinas Kesehatan kabupaten Mimika, untuk tahun 2023, cukup atau tersedia.
“Kami di Dinas Kesehatan kelolah obat malaria, dan sesuai program nasional diperoleh langsung dari Kemenkes. Kebutuhan rata-rata pertahun khususnya di Mimika, sebanyak 3 juta butir obat malaria, dan hingga saat ini kami masih memperolehnya,” kata Reynolsd, selaku kepala Dinas Kesehatan. kepada wartawan GTN, (27/5/2023) pada saat konferensi pers di Balroom Hotel Horison Diana Timika.
Pihaknya mengjelaskan, di tahun 2022 sempat terjadi kekosongan atau ketersedian stok obat malaria secara nasional, untuk itu Langkah yang diambil oleh Dinas Kesehatan kabupaten Mimika, yaitu mendistribusikan obat malaria di dan fasilitas kesehatan (Faskes), milik pemerintah dan swasta, yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
"Namun pada saat obat malaria atau yang sering dikenal dengan sebutan (obat biru sudah) yang didistribusikan, oleh Dinas Kesehatan telah melakukan evaluasi kepada fasilitas Kesehatan(Faskes) yang dikelola oleh TNI dan Polri.
“Kita tahu bahwa, satuan tugas yang ada di kabupaten Mimika, perlu juga menjadi atensi Pemerintah Daerah, dikarena pemerintah pusat melalui Kementrian Kesehatan (Kemenkes) bekerjasama dengan TNI-Polri,” pungkasnya
Lanjutnya, untuk teknis kondisi malaria di Mimika, sebenarnya menjadi latar belakang. yaitu ketersediaan obat malaria yang dihutung berdasarkan jumlah kasus. Jumlah kasus pertahun proporsi atau persentasi malaria di Mimika, adalah 36-40 persen sehingga, perencanaan berdasarkan variabel perhitungan Dinas Kesehatan.
“paling penting adalah ketepatan diagnose, Karena jika kalau salah maka perencanaan juga akan meleset. Selain diagnosa, hal lain menjadi perhatian adalah ketepatan pemberian obat malaria, berdasarkan jenis parasit. Contoh, pemberian obat malaria kepada pasien Tropika jumlahnya berbeda dibandingkan dengan pasien Tersiana,” paparnya
Hal ini juga penting dalam penanganan malaria adalah, melakukan edukasi kepatuhan oleh warga di kabupaten Mimika, dalam pencegahan terjadinya malaria. melalui Dinas Kesehatan,akan terus melakukan upaya pengendalian malaria, seperti menjaga lingkungan serta menghindari gigitan nyamuk.
“Jadi 70 persen kasus malaria di Mimika dipengaruhi oleh pasien yang tidak patuh. Ini salah satu faktor stok obat malaria cepat habis. Kasus ini dihitung berdasarkan hasil penelitian kurang dari 63 hari. Periode 63 hari ini kasus malaria terjadi lagi, lantaran pasien tidak patuh minum obat,” tutupnya
Pewarta : @Stevi .Kaperwil Papua
Editor : M.Rizky
"Namun pada saat obat malaria atau yang sering dikenal dengan sebutan (obat biru sudah) yang didistribusikan, oleh Dinas Kesehatan telah melakukan evaluasi kepada fasilitas Kesehatan(Faskes) yang dikelola oleh TNI dan Polri.
“Kita tahu bahwa, satuan tugas yang ada di kabupaten Mimika, perlu juga menjadi atensi Pemerintah Daerah, dikarena pemerintah pusat melalui Kementrian Kesehatan (Kemenkes) bekerjasama dengan TNI-Polri,” pungkasnya
Lanjutnya, untuk teknis kondisi malaria di Mimika, sebenarnya menjadi latar belakang. yaitu ketersediaan obat malaria yang dihutung berdasarkan jumlah kasus. Jumlah kasus pertahun proporsi atau persentasi malaria di Mimika, adalah 36-40 persen sehingga, perencanaan berdasarkan variabel perhitungan Dinas Kesehatan.
“paling penting adalah ketepatan diagnose, Karena jika kalau salah maka perencanaan juga akan meleset. Selain diagnosa, hal lain menjadi perhatian adalah ketepatan pemberian obat malaria, berdasarkan jenis parasit. Contoh, pemberian obat malaria kepada pasien Tropika jumlahnya berbeda dibandingkan dengan pasien Tersiana,” paparnya
Hal ini juga penting dalam penanganan malaria adalah, melakukan edukasi kepatuhan oleh warga di kabupaten Mimika, dalam pencegahan terjadinya malaria. melalui Dinas Kesehatan,akan terus melakukan upaya pengendalian malaria, seperti menjaga lingkungan serta menghindari gigitan nyamuk.
“Jadi 70 persen kasus malaria di Mimika dipengaruhi oleh pasien yang tidak patuh. Ini salah satu faktor stok obat malaria cepat habis. Kasus ini dihitung berdasarkan hasil penelitian kurang dari 63 hari. Periode 63 hari ini kasus malaria terjadi lagi, lantaran pasien tidak patuh minum obat,” tutupnya
Pewarta : @Stevi .Kaperwil Papua
Editor : M.Rizky