Kab.sukabumi, Jawa Barat || Gardatipikornews.com -- Kepala Desa Sukalarang, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi, Ece Suryadi, S.Hut, berbagi pemahaman tentang tata cara pengolahan tanah. Menurut Ece, tanah adalah modal dasar pertanian yang tidak bisa digantikan. Namun, produktivitas lahan pertanian di Indonesia terus menurun. Data menunjukan lebih dari 50% lahan sawah dan 70% lahan kering sudah mengalami degradasi. Ciri utamanya : tanah keras, miskin bahan organik, pH asam, dan mikroba tanah mati.
"Di tengah masalah ini, pupuk organik cair atau POC muncul sebagai solusi praktis. POC adalah pupuk cair hasil fermentasi bahan organik seperti limbah sayur, kotoran ternak, atau urin kelinci. Keunggulannya: mudah diserap tanah, mengandung mikroba, asam organik, dan unsur hara",katanya, Minggu (13/6/2026).

Lebih lanjut, Ece menjelaskan faktor dan contoh masalah serta cara pengendalian lahan pertanian. Sebagai berikut ;
PERMASALAHAN: DEGRADASI LAHAN PERTANIAN
Degradasi lahan artinya tanah kehilangan kemampuan berproduksi. Penyebab utamanya 3 hal :
Ketergantungan Pupuk Kimia: Petani pakai urea + NPK terus tanpa kompos. Akibatnya bahan organik tanah habis, tanah jadi keras dan masam.
Olah Tanah Berlebihan: Traktor bolak-balik bikin struktur tanah hancur. Pori-pori tanah hilang, air nggak bisa masuk.
Minimnya Bahan Organik: Jerami, daun, kompos jarang dikembalikan ke lahan. Padahal bahan organik = makanan mikroba tanah. Kalau 3 hal ini dibiarkan, tanah akan "mati". Cirinya: dipupuk 1 karung pun tanaman tetap kerdil.
CONTOH MASALAH DI LAPANGAN
Temuan kasus di Masyarakat :
Kasus 1: Sawah "Keras Kayak Semen"
Lahan sawah di Desa X habis panen 3x setahun. Tanahnya retak selebar jari pas kemarau. Petani ngeluh air irigasi langsung lari, nggak nyerep. Ini = struktur fisik tanah hancur + C-organik <1,5%.
Kasus 2 : Kebun Cabai "Daun Kuning Terus"
Petani cabai di lahan kering pH 4,2. Sudah dikasih dolomit 2 ton/ha + NPK, tapi daun tetap kuning dan rontok. Ini = tanah asam, unsur hara makro P, K, Ca kekunci, nggak bisa diserap akar.
Kasus 3 : Lahan Bekas Kebakaran
Lahan gambut bekas kebakaran jadi abu, tandus, nggak ada cacing sama sekali. Ditabur benih apa saja gagal tumbuh. Ini = biologi tanah mati total. Semua kasus di atas intinya sama: tanah butuh "dikendalikan" dan dipulihkan.
TEKNIK PENGENDALIAN TANAH MENGGUNAKAN POC
POC bekerja sebagai "pengendali" bukan karena unsur haranya tinggi, tapi karena 3 komponen ini:
Teknik Perbaikan Biologi Tanah
POC yang matang mengandung bakteri pengurai, jamur Trichoderma, dan asam humat. Saat dikocor, mikroba ini "bangunin" kehidupan tanah. Mereka makan sisa bahan organik → jadi humus. Humus ini fungsinya seperti spons: simpan air + jadi rumah mikroba. Target: tanah "mati" jadi "hidup" lagi.
Teknik Perbaikan Kimia Tanah
Asam organik di POC berfungsi sebagai "kunci pembuka". Di tanah asam pH 4,5, unsur Fosfor P diikat besi/aluminium jadi nggak bisa diserap. Asam humat dari POC akan "ngerebut" ikatan itu dan ngelepas P supaya tanaman bisa makan. Sekaligus POC bantu buffer pH biar nggak terlalu asam/basa.
Teknik Perbaikan Fisik Tanah
Humus + lendir mikroba hasil uraian POC akan ngerekat partikel tanah. Tanah yang tadinya butiran halus dan padat jadi menggumpal remah/agregat. Agregat ini bikin pori besar. Hasilnya: air hujan gampang masuk, akar gampang nembus, tanah jadi gembur.4.
TATA CARA MENGATASI/MENGGUNAKAN POC DI LAHAN
Biar hasilnya maksimal, ikuti 4 langkah ini. Contoh dosis untuk lahan seluas 1000 m²
Langkah 1: Kenali Kondisi Awal
Cek pH tanah pakai pH meter. Kalau pH < 5,5 POC wajib dikombinasi dolomit 200kg/ha dulu. POC nggak bisa kerja maksimal di tanah terlalu asam.
Langkah 2 : Pilih & Encerkan POC
Gunakan POC yang sudah matang : ciri bau tape, pH 4-5, tidak busuk. Encerkan 1 : 10. Artinya 20 liter POC + 200 liter air. Jangan pekat, POC pekat justru membunuh mikroba tanah.
Langkah 3 : Aplikasi Tepat Waktu & Cara Waktu: Kocor sore hari jam 15.00-17.00. Tanah lembab + udara adem = mikroba hidup.Cara: Siramkan merata ke permukaan tanah atau lubang tanam. Untuk lahan keras, cangkul dangkal 5cm dulu biar POC masuk.Frekuensi: Tahap pemulihan: 2 minggu sekali x 3 kali. Tahap perawatan: 1 bulan sekali.
Langkah 4 : Kombinasikan & Hindari Pantangan
POC paling bagus dipadu kompos jerami/kohe. Kompos = makanan, POC = "ragi" mikroba.
Pantangan : Jangan campur POC dengan pestisida/insektisida kimia dalam 1 tangki. Mikroba di POC akan mati.
"Pupuk Organik Cair bukan pengganti pupuk NPK, tapi "dokter tanah". Peran utamanya adalah mengendalikan dan memulihkan 3 kerusakan tanah: fisik, kimia, biologi. Dengan aplikasi POC yang tepat, kualitas tanah bisa meningkat: gembur, pH netral, mikroba hidup. Sekaligus laju degradasi lahan pertanian bisa ditekan karena tanah tidak lagi tergantung 100% pada pupuk kimia. Kunci keberhasilannya hanya 3: POC-nya matang, dosisnya tepat, dan aplikasinya rutin. Mari kembalikan tanah kita jadi subur seperti sedia kala". Pungkasnya,
Pewarta : Asep Supiandi.