Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
GTN Ragam - GTN Daerah - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Kepolisian & TNI - GTN Pemerintahan - GTN Hukum & Kriminal - GTN Keagamaan - GTN Kesehatan - GTN Berita - Berita - GTN Olahraga - GTN Politik - GTN Kecelakaan - GTN Internasional - GTN Pariwisata - GTN Ekonomi - GTN Sosial - GTN Bencana Alam - GTN Entertainment - GTN Pendidikan - GTN Sepak Bola - GTN Video - GTN Otomotif - Artikel - Jurnal Nasional - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Hukum - GTN Berita
Weather Widget for Website by cuacalab.id

Sulitnya Mendapatkan Tempat Tinggal Di Bali : Antara Hunian Sementara, BACKPACKER, Dan Lonjakan Harga Sewa

by Gardatipikornews.com
23 Oktober 2025 - 106 Views

Denpasar,  Bali || Gardatipikornews.com -- Fenomena sulitnya mencari tempat tinggal di wilayah Bali kini menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Ironisnya, di tengah geliat ekonomi dan mudahnya akses pekerjaan di sektor pariwisata maupun jasa, justru kebutuhan dasar berupa hunian layak semakin sulit didapatkan. Banyak warga pendatang, pekerja musiman, hingga wisatawan jangka panjang terpaksa menempati rumah-rumah bedeng atau hunian sementara demi menekan biaya hidup yang terus meningkat.

Kondisi ini dipicu oleh tingginya permintaan hunian di tengah keterbatasan lahan dan pesatnya pembangunan properti komersial. Di banyak titik seperti Denpasar, Canggu, Uluwatu, dan Ubud, rumah-rumah kos dan villa mengalami lonjakan harga sewa setiap tahunnya. Dalam satu dekade terakhir, harga sewa kamar atau rumah bisa naik dua hingga tiga kali lipat. Hal ini menjadikan Bali sebagai salah satu daerah dengan biaya tempat tinggal paling mahal di Indonesia, bahkan menyamai kota besar seperti Jakarta.

Meningkatnya jumlah backpacker dan pekerja kreatif dari luar daerah maupun luar negeri juga memperbesar tekanan terhadap pasar perumahan. Banyak di antara mereka memilih tinggal dalam jangka panjang di wilayah wisata dengan harga yang relatif tinggi, sehingga mendorong terjadinya persaingan ketat antara warga lokal dan pendatang dalam mencari tempat tinggal terjangkau. Akibatnya, hunian sementara seperti bedeng, kontrakan sederhana, dan kamar sewa seadanya semakin menjamur di kawasan pinggiran.

Para pelaku usaha properti dan pemilik lahan melihat peluang besar dari kondisi ini. Mereka membangun lebih banyak akomodasi jangka pendek, guest house, hingga rumah modular untuk memenuhi permintaan pasar. Namun, di sisi lain, hal ini justru mempersempit ruang bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah untuk memiliki tempat tinggal tetap di Bali. “Bahkan untuk sewa kamar sederhana saja sekarang bisa menyentuh jutaan per bulan,” keluh Irsan, seorang pekerja kafe di daerah Jimbaran.

Fenomena ini juga membuka celah bagi maraknya praktik penipuan daring. Banyak iklan penyewaan rumah atau villa di media sosial yang ternyata palsu. Modusnya beragam — mulai dari foto hunian fiktif, penyewaan ganda, hingga permintaan uang muka tanpa bukti legalitas. Tidak sedikit korban, baik warga lokal maupun pendatang, yang kehilangan uang dalam jumlah besar akibat tergiur dengan harga sewa murah yang ditawarkan secara daring.

Pemerhati ekonomi dan sosial budaya Bali menilai, persoalan ini perlu ditangani dengan kebijakan yang seimbang antara sektor pariwisata dan kebutuhan domestik. Pemerintah daerah diharapkan mampu mengatur tata ruang, memberikan insentif bagi pembangunan rumah tinggal rakyat, dan menindak tegas praktik penipuan properti digital. “Jika tidak ada keseimbangan, Bali bisa berubah menjadi pulau kerja tanpa rumah bagi pekerjanya sendiri,” ujar I.G.N.P, pengamat kebijakan publik di Denpasar.

Fenomena lonjakan harga sewa di Bali tidak hanya mencerminkan daya tarik pulau ini sebagai destinasi global, tetapi juga menjadi cermin tantangan besar dalam menghadapi arus modernisasi dan ketimpangan ruang hidup. Di tengah gemerlap pariwisata dan kemudahan mencari pekerjaan, hak dasar untuk memiliki tempat tinggal layak justru menjadi mimpi yang kian menjauh bagi banyak orang yang menggantungkan hidupnya di Pulau Dewata.

*GTN.lasmana

Sebelumnya
Jaksa Dan Hakim Menuai Sorotan Publik, Terdakwa Ninawati Di Duga Gelontorkan Uang Miliaran Terkait...
Selanjutnya
Pedagang Kaki Lima Inovatif Tampil Modern Dengan Pembayaran Digital...

Berita Terkait :