Cari Berita

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
GTN Ragam - GTN Daerah - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Kepolisian & TNI - GTN Pemerintahan - GTN Hukum & Kriminal - GTN Keagamaan - GTN Kesehatan - GTN Berita - Berita - GTN Olahraga - GTN Politik - GTN Kecelakaan - GTN Internasional - GTN Pariwisata - GTN Ekonomi - GTN Sosial - GTN Bencana Alam - GTN Entertainment - GTN Pendidikan - GTN Sepak Bola - GTN Video - GTN Otomotif - Artikel - Jurnal Nasional - GTN Nasional - GTN Headline - GTN Hukum - GTN Berita
Weather Widget for Website by cuacalab.id

Cak Imin Keliru Membaca Sejarah: Jangan Ukur HMI Dengan Skala Politikmu

by Gardatipikornews.com
18 Juli 2025 - 208 Views

Konawe Selatan, || Gardatipikornews.com -- 17 Juli 2025 — Pernyataan politis yang dilontarkan oleh Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dalam acara resmi Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) menjadi sorotan tajam kalangan aktivis mahasiswa. Dalam pidatonya, Cak Imin menyebut bahwa “organisasi mahasiswa yang tumbuh dari bawah adalah PMII, bukan HMI.” Ucapan itu memantik respons keras dari kalangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Majelis Penyelamat Organisasi (MPO).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum HMI MPO Cabang Konawe Selatan, Indra Dapa Saranani, menyatakan bahwa pernyataan Cak Imin bukan hanya keliru secara sejarah, tetapi juga mencerminkan sikap merendahkan organisasi mahasiswa Islam yang telah lebih dulu hadir dalam gelanggang perjuangan bangsa.

“Dalam forum alumni PMII, Cak Imin menyampaikan narasi provokatif. Kami menyayangkan seorang tokoh nasional bicara dengan standar dangkal dan mengklaim kebenaran sejarah secara sepihak. Jangan ukur HMI dengan kacamata politik sempit,” tegas Indra.

HMI: Lahir dari Kesadaran Umat, Bukan dari Struktur Kekuasaan

HMI berdiri 5 Februari 1947, jauh sebelum PMII, sebagai jawaban atas kegelisahan umat dan bangsa. HMI dibentuk oleh para intelektual muda Islam untuk menjadi pilar perjuangan mahasiswa dalam membela keislaman dan keindonesiaan.

“HMI tidak lahir dari struktur kekuasaan ataupun organisasi keagamaan mapan. HMI lahir dari jiwa merdeka dan ghirah keumatan yang tulus,” ujar Indra.

PMII dan HMI: Dua Jalan, Dua Paradigma Gerakan

PMII yang didirikan tahun 1960 oleh kader Nahdlatul Ulama memang memiliki keterikatan kultural dan struktural dengan basis massa tertentu. Sementara HMI menempatkan diri sebagai organisasi independen, tanpa keberpihakan pada struktur politik atau golongan manapun.

“PMII tumbuh sebagai perpanjangan gerakan institusional, sedangkan HMI bergerak dari ruang kesadaran kritis mahasiswa Islam lintas latar belakang. Ini bukan soal siapa lebih baik, tapi siapa yang memahami arah perjuangan,” ungkapnya.

Saran untuk Cak Imin: Jangan Asal Bicara, Bacalah Sejarah, Sebagai tokoh publik yang juga pernah menjadi bagian dari gerakan mahasiswa, Cak Imin seharusnya menahan diri dari komentar yang justru memicu polarisasi dan menjatuhkan organisasi lain. Sikap seperti ini tidak mencerminkan etika intelektual yang seharusnya ditanamkan oleh organisasi kemahasiswaan.

“Kami di HMI terbiasa berpikir sebelum berbicara. Kritik kami tidak lahir dari dendam atau glorifikasi masa lalu, tapi dari tanggung jawab sejarah. Maka kami sarankan Cak Imin untuk memahami sejarah sebelum membandingkan,” tegas Indra.

HMI MPO: Bergerak untuk Umat, Bukan Elite

HMI MPO sejak awal menegaskan sikap kritis terhadap kekuasaan dan tetap memosisikan diri sebagai pelindung nilai dan pembangun kesadaran. Bukan pencari panggung atau perpanjangan partai politik.

“Kami tidak mengejar validasi elite. Sejarah HMI sudah selesai diuji oleh waktu. Kalau HMI hadir, itu karena umat butuh. Bukan karena kami dijemput oleh kekuasaan,” pungkas Indra.

( @idr. Kaperwil GTN**

Sebelumnya
Aneh..! : Swakelola 1,3 Miliar Anggaran Covid-19 Di Tahun 2025: Ada Apa Dengan RSUD R. Syamsudin,...
Selanjutnya
Bhayangkari Brimob Daerah NTB Hadir Bawa Harapan, Baksos Untuk Warga Terdampak Banjir Di...

Berita Terkait :