Denpasar || Gardatipikornews.com -- Kondisi kesehatan masyarakat di kota Denpasar menunjukkan tren menurun akhir-akhir ini, terutama di kalangan mereka yang memiliki aktivitas luar ruangan dan padat. Hal ini dianggap terkait dengan meningkatnya intensitas hujan dan cuaca yang tidak menentu di wilayah tersebut. Sebagai contoh, pada 9-10 September 2025 hujan ekstrem dengan curah hingga 50–150 mm terjadi di hampir seluruh wilayah Bali, termasuk Kota Denpasar.
Data cuaca menunjukkan bahwa di bulan Oktober wilayah Denpasar mengalami tingkat kelembapan yang tinggi dan jumlah hari hujan yang cukup banyak. Misalnya, menurut data historis rata-rata hari hujan mencapai sekitar 15,5 hari pada bulan Oktober di Denpasar dengan curah hujan tercatat sekitar 33 mm.
Dari sisi kesehatan, terdapat kenaikan kasus penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar, sebanyak 2.613 kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) tercatat terjadi dalam dua bulan terakhir (Agustus–September 2025). Sementara di tingkat provinsi, jumlah kasus ISPA di Bali meningkat dari 35.604 kasus pada Agustus menjadi 36.009 kasus pada September 2025.
Para petugas kesehatan menyebut bahwa kondisi cuaca lembab, genangan air pasca-hujan, dan perubahan suhu serta kelembapan mempengaruhi daya tahan tubuh masyarakat. Apalagi bagi mereka yang aktivitasnya padat dan waktu istirahatnya terbatas, risiko terserang demam, flu, batuk dan penurunan daya tahan tubuh pun jadi meningkat.
Menanggapi hal ini, Dinas Kesehatan Kota Denpasar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan pola hidup sehat: istirahat cukup, konsumsi gizi seimbang, menjaga kebersihan lingkungan rumah dan tempat kerja serta menghindari paparan hujan dan udara dingin tanpa perlindungan. Dengan cuaca yang diperkirakan masih berubah-ubah dalam beberapa minggu ke depan, langkah preventif tersebut dinilai sangat penting agar kesehatan publik tetap terjaga.
Redaksi Gardatipikornews.com - Liputan Wilayah Denpasar
*GTN.lasmana