Tasikmalaya || Gardatipikornews.com -- Kunjungan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, ke Republik Turkiye pada 8–10 Januari patut diapresiasi sebagai langkah diplomasi strategis di tengah situasi geopolitik global yang semakin kompleks dan tidak menentu. Pertemuan bilateral dalam format 2+2—yang melibatkan dialog tingkat tinggi antar kementerian—menjadi penanda penting bahwa Indonesia dan Turkiye menempatkan hubungan kedua negara pada level yang semakin strategis.
Di tengah konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, ketegangan antar kekuatan besar, serta ketidakpastian ekonomi global, Indonesia menunjukkan wajah diplomasi yang tenang, terukur, dan berprinsip. Politik luar negeri bebas dan aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia tidak sekadar menjadi slogan, tetapi diterjemahkan secara nyata melalui langkah-langkah konkret yang mengedepankan kepentingan nasional tanpa terjebak pada blok geopolitik tertentu.
Pertemuan 2+2 Indonesia–Turkiye memiliki makna penting, tidak hanya secara simbolik tetapi juga strategis. Turkiye dikenal sebagai salah satu negara dengan peran regional dan global yang signifikan, baik dalam isu keamanan, pertahanan, maupun diplomasi internasional. Fakta bahwa format 2+2 ini dilakukan untuk pertama kalinya dengan Indonesia menunjukkan tingkat kepercayaan dan pengakuan terhadap posisi Indonesia di panggung global.
Langkah Menteri Luar Negeri RI ini juga mencerminkan pendekatan diplomasi yang adaptif terhadap perubahan zaman. Diplomasi tidak lagi sekadar seremoni, melainkan instrumen strategis untuk memastikan Indonesia tetap memiliki ruang manuver yang luas di tengah persaingan global. Dengan memperkuat komunikasi dan kerja sama dengan mitra strategis seperti Turkiye, Indonesia menjaga kepentingan nasionalnya tanpa harus terjebak dalam rivalitas global yang tajam.
Bagi diaspora Indonesia di luar negeri, khususnya di Turkiye, kunjungan ini memberikan pesan kuat bahwa negara hadir dan aktif membangun posisi Indonesia di dunia internasional. Diplomasi yang dijalankan tidak hanya berdampak pada hubungan antarnegara, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri diaspora sebagai bagian dari bangsa yang diperhitungkan secara global.
Ke depan, diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Sugiono diharapkan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian, kepentingan nasional, dan kontribusi positif bagi stabilitas global. Di tengah dunia yang bergejolak, Indonesia memilih jalur diplomasi yang cerdas: tidak gaduh, tidak reaktif, tetapi tetap berpengaruh. Inilah wajah diplomasi Indonesia yang patut diapresiasi dan diperkuat.
Sumber :Fathiyakan Abdulah Ketua Umum Forkap Tasikmalaya, Diaspora lndonesia asal Tasikmalaya di Tutkiye.
( @Jana Kaperwil JABAR**